berjajar rapi mengitari sungai jernih nan suci
sesekali derasnya aliran sungai meraung
memecah kesunyian alam
pohon cemara tersusun rapi diantar ilalang
bukit itu nampak jelas menggelora dan mempesona
saat malam tiba...
bunga sedap malam selalu menyengat
dari hidung hinggaa bulu kuduk
bahkan hatipun akan tergetar
oleh harumnya yang maha dahsyat
perlahan-lahan bukit itu semakin sunyi
gelap bagai dirundung duka
bukan karena tak berharga
hanya saja tak ada tangan-tangan yang mau menyapa
bukit-bukit permadani itu...
malang bagai ilalang yang membisu
berharap esok kan tiba
tangan dan hati yang suci
yang mampu menyentuhnya
meski tertatih dan penuh harap
bukit itu tetap menggelora
write is my style - saat pena terangkat dan tinta mulai mengering akan terukir sandi-sandi bahasa -
Jumat, 14 September 2012
bunga-bunga teratai
bunga itu indah dan berpilin
berjajar dan berwarna-warni
diatas payau yang kumuh
namun elok dipandang
harumnya mempesona
meski sekejap tak diketahui
betapa rapuhnya bunga itu
bertahan di hamparan air yang kotor dan kumuh
bersabar hingga mekar
berjuang demi mahkota
tak peduli jika nanti arus kan tiba
menggelora dan menerjangnya
bunga-bunga teratai itu
semakin mempesona
dikala mekar diatas air
bercermin akan kecantikannya
menggoda seisi payau yang kumuh
yang dulu mengejek dan mencacinya
kini... teratai itu tersenyum lega...
dan bersyukur pada Sang Pencipta...
dalam mekarnya teratai-teratai suci...
berjajar dan berwarna-warni
diatas payau yang kumuh
namun elok dipandang
harumnya mempesona
meski sekejap tak diketahui
betapa rapuhnya bunga itu
bertahan di hamparan air yang kotor dan kumuh
bersabar hingga mekar
berjuang demi mahkota
tak peduli jika nanti arus kan tiba
menggelora dan menerjangnya
bunga-bunga teratai itu
semakin mempesona
dikala mekar diatas air
bercermin akan kecantikannya
menggoda seisi payau yang kumuh
yang dulu mengejek dan mencacinya
kini... teratai itu tersenyum lega...
dan bersyukur pada Sang Pencipta...
dalam mekarnya teratai-teratai suci...
Senin, 07 Mei 2012
cahaya tak bersinar
penantian malam yang kelam
di balut seberkas angin malam
lilin-lilin kecil tak kunjungmenyala
obor-obor jalanpun telah usang
rembulanpun ditimpa awan malam
redup dan kelam malam yang hitam
maaf jika cahaya tak mampu bersinar
bukan karena habis berkas cahyanya
namun karena lelah di buai asa
bukan,,,
bukan lagi angin malam menyambut kelabu
atau awan hitam yang tak kunjung bertepi
kegalauan hati dan fikiranlah yang menipu diri
hingga cahaya tak mampu menerangi
maaf,,,
jika aku terlalu emosi
menyikapi malam yang tak kunjung terang
gejolak membara dalam jiwa
seberkas sinar dalam hati
memberikan peneduhan
di balut seberkas angin malam
lilin-lilin kecil tak kunjungmenyala
obor-obor jalanpun telah usang
rembulanpun ditimpa awan malam
redup dan kelam malam yang hitam
maaf jika cahaya tak mampu bersinar
bukan karena habis berkas cahyanya
namun karena lelah di buai asa
bukan,,,
bukan lagi angin malam menyambut kelabu
atau awan hitam yang tak kunjung bertepi
kegalauan hati dan fikiranlah yang menipu diri
hingga cahaya tak mampu menerangi
maaf,,,
jika aku terlalu emosi
menyikapi malam yang tak kunjung terang
gejolak membara dalam jiwa
seberkas sinar dalam hati
memberikan peneduhan
Senin, 16 April 2012
redupnya jiwa
disaat burung-burung enggan berkicau
dan angin mulai lelah berhembus
maka awanpun enggan mengayomi bumi
membiarkannya terpanggang mentari
jiwa-jiwa yang mati
disusul hati yang padam
telah mentakdirkan durhaka
kepada alam dan Sang Pencipta
rasa pongah manusia tak kunjung padam
justru kian terbumbung tinggi
dibuai desiran ombak
dan pantai berpasir putih
raja durhaka kian pongah
hatinya kian menjulang ke angkasa
saat tahta dan harta serta wanita
menggoda dan menggelora kedalam sukmanya
kini bukan hanya jiwa dan hati yang redup
tapi anginpun telah ikut mati dibawa badai
bersama mentari pagi
dibawah kaki bumi
dan angin mulai lelah berhembus
maka awanpun enggan mengayomi bumi
membiarkannya terpanggang mentari
jiwa-jiwa yang mati
disusul hati yang padam
telah mentakdirkan durhaka
kepada alam dan Sang Pencipta
rasa pongah manusia tak kunjung padam
justru kian terbumbung tinggi
dibuai desiran ombak
dan pantai berpasir putih
raja durhaka kian pongah
hatinya kian menjulang ke angkasa
saat tahta dan harta serta wanita
menggoda dan menggelora kedalam sukmanya
kini bukan hanya jiwa dan hati yang redup
tapi anginpun telah ikut mati dibawa badai
bersama mentari pagi
dibawah kaki bumi
Selasa, 27 Maret 2012
Langitpun Galau
bukan merona merah
bukan kelam ditebar hitam
bukan jua gemercik angin
bukan juga riuhan burung-burung
tak begitu mudah menentukan arah angin
terkadang menghempas bambu-bambu
mengukir jejak-jejak debu
menggoyah kerikil-kerikil tajam
langit semakin tak menentu
saat tetesan air hujan membasahi debu
mentaripun tak kunjung bersembunyi
setapak berkas cahaya masih terlihat
hinggaa...
membuat langit semakin tak mengerti...
mungkin langit ingin berteriak....
tanpaMU aku galau...
namun,,, tak ubahnya awan dan mentari
mereka terus bergejolak
menusuk sanubari langit
dan langitpun kian galau
bukan kelam ditebar hitam
bukan jua gemercik angin
bukan juga riuhan burung-burung
tak begitu mudah menentukan arah angin
terkadang menghempas bambu-bambu
mengukir jejak-jejak debu
menggoyah kerikil-kerikil tajam
langit semakin tak menentu
saat tetesan air hujan membasahi debu
mentaripun tak kunjung bersembunyi
setapak berkas cahaya masih terlihat
hinggaa...
membuat langit semakin tak mengerti...
mungkin langit ingin berteriak....
tanpaMU aku galau...
namun,,, tak ubahnya awan dan mentari
mereka terus bergejolak
menusuk sanubari langit
dan langitpun kian galau
Senin, 26 Maret 2012
Lilin Kecil
Lilin yang mulai redup itu
Kini bringas tak tentu arah
Ronanya yg kian menyala
Diterpa angin malam
Melambai dan membakar gelap malam
Menghujam awan kelabu malam
Hinggga bulan tersenyum lebar
Dalam buaian bintang-bintang
Lilin kecil itu...
Kini bukanlah seonggok duri
Yang tak tahu arti diri
Lilin kecil itu...
Kini semua orang mengerti
Bahkan Sipongah yang tak tahu iri
Lilin kecil itu...
Kini tersenyum dalam ihlas
Jikalau badai angin malam tak dapat menggoyahnya lagi
dan lilin kecil itu ...
Tak akan meredup
Meski telah habis terbakar api
Kini bringas tak tentu arah
Ronanya yg kian menyala
Diterpa angin malam
Melambai dan membakar gelap malam
Menghujam awan kelabu malam
Hinggga bulan tersenyum lebar
Dalam buaian bintang-bintang
Lilin kecil itu...
Kini bukanlah seonggok duri
Yang tak tahu arti diri
Lilin kecil itu...
Kini semua orang mengerti
Bahkan Sipongah yang tak tahu iri
Lilin kecil itu...
Kini tersenyum dalam ihlas
Jikalau badai angin malam tak dapat menggoyahnya lagi
dan lilin kecil itu ...
Tak akan meredup
Meski telah habis terbakar api
Senin, 19 Maret 2012
Titik kesunyian alam
Lembayung bumi tak berhenti meredup
Saat awan memutar dari pusaran
Dan angin berarak kesepian
Hening diterjang salju kutub
Bukan bertepi dari kenyataan
Atau menepis noda-noda kelam
Hanya saja mencari celah dalam sedikit sunyi
Untuk meratapi arti bunga yang mekar
Dan awan yang terus berputar
Jika dan hanya jika malam tak sunyi
Mungkin mimpi tk pernah terbesut
Dan hati tak pernah berazam
Untuk menakhlukkan alam
Dalam titik kesunyian
Rabu, 07 Maret 2012
Angin Kelabu
Disaat angin kelabu
Dan angin berhembus kencang bak kilat
Tak ada lagi pemerhati syahdu
Kerlingan langit sudah bosan memandang
Digenangi awan hitam
Tetes embun tak lagi menggigil
Ayam jantan tak mau lagi berkokok
Penggembala mulai bosan mencari rumput
Tuan tanah tak mau lagi ditumbuhi
Bukan karena sempitnya dunia
Tetapi karena serakahnya manusia
Bukan hujan tak mau datang
Tapi karena hujan sering dihujat dan dimaki
Dan angin berhembus kencang bak kilat
Tak ada lagi pemerhati syahdu
Kerlingan langit sudah bosan memandang
Digenangi awan hitam
Tetes embun tak lagi menggigil
Ayam jantan tak mau lagi berkokok
Penggembala mulai bosan mencari rumput
Tuan tanah tak mau lagi ditumbuhi
Bukan karena sempitnya dunia
Tetapi karena serakahnya manusia
Bukan hujan tak mau datang
Tapi karena hujan sering dihujat dan dimaki
Selasa, 28 Februari 2012
Daun
Saat daun gugur dari dahannya
Kuncup bunga pasti kan tumbuh
Saat bunga kian bermekaran
Pasti kan tumbuh buah yang lebat
Meski pohon itu kini kering
Dan nampak coklat tua
Akar itu kan tumbuh segar
Bertebangan bunga ilalang
Mengikuti arah tiupan angin
Dan dibawa sejuk berlalau dibalut rindu
Ilalang terus memudar
Dan terbang jauh keawan
Daun yang kering bersukur
Karena hujan tak jua membasahi
Tetapi mentari selalu menyinari
Senin, 20 Februari 2012
bisikan debu
Bisikan yang tak
pernah berlalu
Meski angin malam telah enyah
Dan bulan meredup
Bisikannya selalu berdesir dalam jiwa
Bisikan itu semakin tajam
Saat bunga mawar bermekaran
Menghias indanhya kelopak hijau
Setangkai benih dalam asa
Membawa rona malam yang kelam
Dalam peraduan singgasana
Awan
Sinarnya terkadang redup
Terkadang membara
Saat api menyala
Gerimis siap menyiram
Merah tak berarti
romantis
Putih tak berarti bengis
Terkadang memang merah lebih bergairah
Dibanding putih yang penuh misteri
Bukan malam memang jika tanpa bintang
Bukan siang jika tak ada awan
Tapi bukan berarti sunyi saat bintang tak menghiasi malam
Dan bukan berarti diam saat awan tak muncul di langit biru
Langganan:
Postingan (Atom)
menanti hujan reda
sisa gerimis masih lekat didahan debu di dedaunan sudah sirna dirampas tetesan air hujan langit kelabu pun bernyiur menjadi biru b...
-
Negeri ini terlalu pelik, dengan segudang permasalahannya... Negeri ini terlalu membosankan, bak dongeng sebelum tidur yang ceritanya membu...
-
Jauh dipelupuk mata bukan berarti menjauhkan hati Hati yang selalu terikat oleh bingkisan do'a-do'a suci Berharap kepada Sang Illa...




